Namaku Miftah Fajri…
Aku terlahir di waktu subuh, saat fajar menyingsing…
hari sabtu, empat januari seribu sembilan ratus delapan puluh enam.
Dilahirkan dari sebuah keluarga yang kecil. Karena memang bapak ku cuma seorang dosen yang bergaji rendah, dan mama ku masih kuliah saat menikah dengan bapak. Bahkan aku masih sempat hadir di acara wisuda sarjana mamaku.
Berbicara soal bapak, aku jadi teringat beliau. Setiap saat aku kangen sama beliau. Sudah setahun lebih bapak meninggalkan kami.. (Aku, mama, Dede dan Fitri..) Sudah hampir 11 tahun lebih dari sejak aku SD, bapak mengidap sakit. Entah bagaimana rasanya jadi bapak. Selain Harus jadi kepala keluarga yang menghidupi keluarganya, bapak juga harus berjuang melawan sakitnya sendiri. Mungkin sakitnya tidak ada yang pernah bisa merasakan selain beliau sendiri. Dan akhirnya mungkin bapak sudah tidak kuat menahan sakit nya itu, sampai pada akhirnya tanggal 7 Januari 2009, bapak meninggalkan kami. Hari dimana aku baru menginjak 3 hari setelah genap usia ku 23 tahun.
Malam disaat bapak pergi adalah malam terburuk yang pernah aku lalu. Setelah pulang dari kegiatanku diluar, aku matikan semua telepon. Dan langsung tidur, karena saat itu lelah sekali setelah seharian di tempat praktek. Dan Kalau saja aku tahu bapak akan pergi malam dini hari itu, mungkin aku akan tetap dirumah. Dan akan nikmatin hari-hari terakhir bersama beliau. Tapi takdir berkata lain. Aku harus pergi ke jakarta untuk menyelesaikan urusanku di kampus dan harus menjalani kerja praktek di Bogor. Padahal aku belum bisa memberikan apa-apa disaat bapak pergi. Aku pun masih dalam tahap proses penyelesaian tugas akhir di kampus saat itu. Padahal sedikit lagi. Aku ingin nunjukin sedikit prestasi ku sama bapak. Tapi Allah berkata lain.
Dan setelah bapak pergi..
Mama melanjutkan sendiri semua perjuangan melanjutkan mimpi bapak agar anak-anaknya bisa sukses. Dan dengan sekuat tenaga, mama yang begitu tangguh mampu mendorongku untuk akhirnya bisa lulus kuliah. Tak henti doa itu mengalir kepada semua anak-anak agar bisa menyelesaikan kuliah nya dengan baik. Dan akhirnya akupun S-1 berkat dorongan mama yang selalu berdoa tiap malam. Dan itu adalah Sebuah pencapaian terbesarku..
Dibesarkan di kota kecil di Banten, Serang, membuatku hidup dalam kultur banten yang kuat. Padahal aku dilahirkan di rangkasbitung, kota kecil disebelah selatan banten. Namun serang begitu lain, kota yang mempunyai kultur yang agak lain, bahasa yang khas dan orangnya yang unik dan berkarakter. Apalagi kalau yang belum pernah ke Serang, pasti bawaannya pengen berantem dengan sopir angkot. Karena di Serang, Jurusan Angkutan Kota cuma Sopir dan Tuhan yang tahu. Loh kok bisa? Karena pada dasarnya, trayek di kota Serang itu ada, cuma karena rutenya cuma itu-itu saja, jadi sopir beranggapan bahwa trayek yang ada malah mematikan usaha. Dan yang ada, first come first served. Yang naek duluan dan hendak kemana, maka dia yang akan diantar. Tapi jika penumpang lebih banyak, maka yang sedikit harus turun dan mengalah. Bahkan pernah aku pulang sekolah harus naek turun angkota sebanyak 3 kali haya karena sopirnya ngangkut orang yang beda jurusan. hehehe.. jadi lucu kalo ingat itu. Maklum sudah hampir 2tahun tidak naek angkot di serang. (lalu naek apa?).
Padahal dulu tiap hari naek angkot. Tapi sekarang sudah lupa berapa ongkosnya.
Ke sekolah pulang pergi naek angkot. Kerumah pacar pun pulang pergi naek angkot (uppzz pacar yang mana ya?), syukur-syukur kalau punya duit lebih naek becak.
Kangen ama suasana itu…
to be continued..